Selasa, 4 Ogos 2009

Renungan Sebuah Persaksian - Syahaadatain...

Agungnya Sebuah Persaksian

Saudaraku kaum muslimin... Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang- orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada ilah melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[QS. Āli ‘Imrān (3): 18]

Asbāb an-nuzūl (sebab turun) ayat tersebut, menurut Ibnu al-Jawziy Rahimahullah setidaknya ada tiga pendapat, yaitu:

1. Riwayat Ibnu as-Sāib Rahimahullah, bahwa ada dua orang pendeta dari Syam datang menemui Nabi Salallahu Alaihi Wasalam, ketika sampai di Madinah, salah seorang dari mereka berkata:

( مَا أَشْبَهَ هَذِهِ الْمَدِيْنَةَ بِصِفَةِ مَدِيْنَةِ النَّبِيِّ الَّذِي يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ )

Alangkah miripnya kota ini dengan gambaran kota yang darinya akan muncul seorang nabi pada akhir zaman!”, dan manakala keduanya berjumpa dengan beliau Salallahu Alaihi Wasalam, mereka berkata:

( أَنْتَ مُحَمَّدٌ؟ )

“Apakah engkau Muhammad?”, beliau menjawab:

(( نَعَمْ ))

“Ya, benar.”, mereka kembali bertanya:

( وَأَحْمَدُ؟ )

“Ataukah Ahmad?”, beliau kembali menjawab:

(( نَعَمْ ))

“Ya, benar.”, kemudian mereka bertanya:

( نَسْأَلُكَ عَنْ شَهَادَةٍ، فَإِنْ أَخْبَرْتَنَا بِهَا، آمَنَّا بِكَ وَصَدَّقْنَاكَ )

“Kami ingin bertanya tentang sebuah persaksian. Apabila engkau dapat menjawabnya, niscaya kami akan beriman kepadamu dan membenarkanmu juga.”, maka beliau berkata:

(( سَلاَنِي ))

“Tanyakan saja!”, mereka berkata:

( أَخْبِرْنَا عَنْ أَعْظَمِ شَهَادَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ )

“Terangkan kepada kami tentang kesaksian paling agung yang ada dalam kitabullah!”, kemudian turunlah ayat tersebut di atas dan pada akhirnya keduanya pun masuk Islam.

2. Riwayat lain menyatakan bahwa ayat ini turun sebagai bantahan terhadap anggapan kaum Nashrani dari Najran yang meyakini bahawa ‘Isa Alaihi Salam adalah anak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

3. Riwayat dari Sa’id bin Jubayr Rahimahullah, bahawa di sekitar Ka’bah terdapat 360 berhala, sehingga orang ‘Arab yang masih hidup akan memiliki satu atau dua berhala, tatkala ayat ini turun, maka seluruh berhala tersebut sujud kerananya (Zād al-Masīr fī ‘Ilm at-Tafsīr 1/294).

Saudaraku kaum muslimin...

Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala meminta kepada orang-orang berilmu agar memberikan syahādah (persaksian) terhadap sesuatu yang sangat agung, iaitu tawhīd (keesaan)-Nya.

Hal ini memberikan dalil tentang keutamaan ilmu dan orang yang ber-ilmu, disebabkan:

Pertama: kerana orang-orang yang berilmu adalah yang diminta Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk bersaksi terhadap keesaan-Nya, bukan golongan lainnya.

Kedua: Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggabungkan kesaksian orang-orang berilmu dengan kesaksian-Nya.

Ketiga: Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggabungkan kesaksian orang-orang berilmu dengan kesaksian malaikat-malaikat-Nya.

Keempat: kerana ayat di atas mengandung rekomendasi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang kesucian dan keadilan orang-orang berilmu. Hanya orang-orang yang adil sajalah yang diminta Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk memberikan persaksian.

Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

(( يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ، وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ ))

“Ilmu ini (agama) dalam setiap generasi akan diusung oleh orang-orang yang adil. Mereka bertugas menolak dari ilmu ini adanya distorsi dari orang-orang yang radikal (berlebih-lebihan), plagiasi (ciplakan) para pendusta, dan dari takwil orang-orang bodoh.”

Kelima: Allah Subhanahu Wa Ta’ala mensifati mereka (yang diminta bersaksi) sebagai orang-orang berilmu.

Hal ini menunjukkan bahawa ilmu telah diperuntukkan bagi mereka, dan mereka adalah para pemilik dan pengemban ilmu tersebut.

Keenam: Allah Subhanahu Wa Ta’ala meminta kepada diri-Nya (saksi teragung) untuk bersaksi kemudian meminta di antara hamba-hamba-Nya yang terbaik untuk bersaksi pula, iaitu para malaikat dan orang-orang berilmu.

Hal ini adalah bukti kuat yang menunjukkan keutamaan dan kemuliaan orang-orang berilmu.

Kelapan: Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kesaksian orang-orang berilmu sebagai hujjah atas para pengingkar. Hujjah dari orang-orang berilmu setara dengan dalil-dalil, ayat-ayat dan bukti-bukti dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menunjukkan tentang keesaan-Nya.

Kesembilan: Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyendiri-kan tindakan yang mengandung kesaksian dari-Nya, para malaikat-Nya dan orang-orang berilmu, dan Dia tidak menggabungkan kesaksian mereka atas kesaksian-Nya dengan tindakan lain.

Hal ini menunjukkan eratnya hubungan antara kesaksian mereka dengan kesaksian-Nya. Seakanakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersaksi atas keesaan diri-Nya dengan lisan-lisan mereka dan membuat mereka mampu melontarkan kesaksian tersebut.

Kesepuluh: Allah Subhanahu Wa Ta’ala membuat orang-orang berilmu menunaikan hak-Nya atas hamba-hamba-Nya dengan kesak-sian tersebut.

Apabila mereka telah menunaikan hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut, otomatik mereka telah menunaikan hak yang dipersaksikan-Nya. Dengan demikian, tetap tegaklah hak yang dipersaksikan Allah tersebut.

Oleh kerana itu, semua manusia tanpa terkecuali wajib mengakui Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena itu adalah puncak kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat. Siapa saja yang mendapat pe-tunjuk dan mengakui hak Allah Subhanahu Wa Ta’alat kerana kesaksian mereka, maka mereka akan mendapat pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikuti mereka.

Itulah kurnia besar yang bobot nilainya tidak diketahui oleh siapa pun juga, kecuali oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Begitu pula halnya dengan orang yang bersaksi dengan kesaksian tersebut kerana kesaksian mereka, maka mereka mendapat pahala sebesar pahala orang-orang yang bersaksi sebagaimana kesaksian mereka.

Saudaraku kaum muslimin...

Ilmu adalah kehidupan dan cahaya, sedangkan kebodohan adalah kematian dan kegelapan. Kejahatan dan keburukan penyebabnya tiada lain adalah kerana tidak adanya kehidupan dan cahaya. Dan semua kebaikan penyebabnya adalah cahaya dan kehidupan.

Cahayalah yang akan membongkar hakikat segala sesuatu dan menjelaskan darjat-darjatnya. Adapun kehidupan, maka ia adalah pembimbing menuju sifat-sifat kesempurnaan, serta yang menghantarkan perkataan dan perbuatan kepada sasarannya yang tepat.

Hal apa saja yang dilandasi kehidupan, maka semuanya melahirkan kebaikan. Rasa malu misalnya, maka penyebabnya adalah kerana adanya kesempurnaan kehidupan hati dan pengetahuannya terhadap hakikat keburukan. Kebalikannya, tidak memiliki rasa malu adalah kerana kematian hati dan tidak adanya kebencian terhadap keburukan.

Sifat malu ibarat hujan, dengannya segala sesuatu menjadi hidup.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?” [QS. al-An’ām (6): 122]

Saudaraku kaum muslimin...

Hati yang tadinya mati kerana kebodohan, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghidupkannya dengan ilmu dan menjadikan keimanannya sebagai cahaya, hingga dengannya seseorang berjalan menyusuri kehidupan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kami. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahawa mereka tiada mendapat sedikit-pun akan kurnia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasannya karunia itu adalah di tangan Allah.Dia berikan kurnia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai kurnia yang besar.” [QS. al-Hadīd (57): 28-29]

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syetan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni nereka; mereka kekal di dalamnya.” [QS. al-Baqarah (2): 257]

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. asy-Syūrā (42): 52]

Dalam ayat-ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahawa ilmu adalah ruh kehidupan dan cahaya yang menerangi.

Di dalamnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatukan dua hal yang sangat prinsipil, iaitu kehidupan dan cahaya.

Saudaraku kaum muslimin...

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan ilmu kepada-Nya. Dan hal ini sudah sangat mencukupi bagi kita untuk mengetahui kemuliaan ilmu, kerana Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan sesuatu kepada-Nya, kecuali meminta tambahan ilmu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebe-lum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” [QS. Thāhā (20): 1

Saudaraku kaum muslimin...

Demikianlah sepenggal kisah tentang agungnya sebuah persaksian, sekaligus menggambarkan kepada kita betapa agung dan mulianya ilmu bagi kehidupan kita, baik ketika di dunia atau terlebih lagi bagi kehidupan di akhirat. Akhirnya, perkukuhkanlah syahadah kita kepada ALLAH dan RasulNYA, serta janganlah kita ragu untuk senantiasa berdoa “Rabbi Zidni ilman”. (www.hasmi.org)

Reaksi:

0 ulasan:

Catat Ulasan

Komentar Anda...

Nota: Hanya ahli blog ini sahaja yang boleh mencatat ulasan.